
DALAM menyampaikan berita, Islam menitik beratkan soal kesahihan maklumat, kebenaran dan manfaat hasil dari sebaran itu. Peringatan berbentuk ancaman keras dari Allah menerusi firman-Nya:
إِنَّ ٱلَّذِینَ یُحِبُّونَ أَن تَشِیعَ ٱلۡفَـٰحِشَةُ فِی ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِیمࣱ فِی ٱلدُّنۡیَا وَٱلۡـَٔاخِرَةِۚ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang suka terhebah tuduhan-tuduhan yang buruk dalam kalangan orang-orang yang beriman, mereka akan beroleh azab seksa yang tidak terperi sakitnya di dunia dan di akhirat; dan (ingatlah) Allah mengetahui (segala perkara) sedang kamu tidak mengetahui (yang demikian).”
[an-Nur: 19]
Saat menutur bicara dan mengarang tinta berita, janganlah kita menjadi orang paling dibenci oleh Rasulullah S.A.W. Rasulullah S.A.W bersabda:
أَبغَضَكُمْ إِليَّ وَأبْعَدَكُمْ مِني مَجْلساً يَومَ القِيامةِ: الثَّرْثَارونَ، والـمُتَشَدِّقُونَ، وَالـمُتَفَيْهِقُون
“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh kedudukannya daripadaku pada hari Kiamat ialah orang yang paling lebat sembangnya, orang yang suka memperolok orang lain dan orang yang sombong bicaranya.”
[Riwayat al-Tirmidzi]
Sebelum sebarkan apa sahaja berita yang kita terima, pastikan dulu kesahihannya. Kita membuka ruang perbincangan yang melebarkan fitnah. Adakalanya kita terperangkap dalam ruang gelap yang kita buat.
Kita ketawa konon kepada kebodohan orang lain, tetapi lantunan tawa kita kembali kepada diri kita sendiri. Selain merendahkan martabat syakhsiyyah, ia sudah tentu menambah dosa. Ia boleh berlaku kepada sesiapa saja tanpa mengira tua atau muda atau latar belakang apa.
YB DATO’ DR MOHAMAED FADZLI DATO’ HASSAN
Exco Kerajaan Negeri Kelantan
ADUN Temangan – HARAKAHDAILY 8/5/2023











