Begini Rasulullah S.A.W. mengajariku…

KADANG-kadang kita umat Islam ini kurang belajar dari Rasulullah S.A.W. Impaknya menjadikan kita tidak cinta kepada Baginda dan semakin jauh dari mengikut sunnahnya. Sedangkan kita mengatakan  La ila ha Illallah Muhammadur Rasulullah, yang sepatutnya Allah menjadi matlamat dalam pengabdian kita, jalannya wajib mengikut Rasulullah SAW.

Advertisement

Kita harus belajar perkara yang telah diajarkan Nabi kepada para Sahabatnya. Baginda diutuskan sebagai rahmatan lil ‘alamin, sebagai kasih sayang Allah pada alam semesta.

Mereka yang benci kepada Nabi, tidak suka pada sunnah Nabi S.A.W, penyebab utamanya adalah kebodohan, tidak mengerti. Oleh kerana itu, takkala Rasulullah S.A.W dilempari batu dan diserang sehingga terluka, wajahnya berlumuran darah, giginya patah, Baginda mengatakan: “Ya Allah ampuni kaum ku, ya Allah mereka tidak mengerti ,mereka tidak faham”.

Penyebab semua itu adalah kebodohan, sebab itu zaman sebelum datangnya Rasulullah S.A.W di sebut apa? Zaman Jahiliyyah, ertinya kebodohan. Batu disembah, bayangkan, batu di sembah.

Orang-orang Arab sebelum datangnya Islam, kadang-kala kalau dia lupa bawa tuhannya, kurma menjadi arca tuhan. Kurma di kumpulkan dan dibentuk dan terus disembah. Tetapi ketika mereka sudah lapar, dimakan tuhannya itu. Benar! Ini di sebutkan di dalam buku-buku sejarah.

Menunjukkan jahilnya mereka. Apabila lahir sahaja anak perempuan mereka, apa yang mereka lakukan? Di kubur hidup-hidup. Di hari kiamat akan ditanyai oleh bayi-bayi perempuan yang di kubur hidup-hidup kepada orang tuanya yang menguburkannya hidup-hidup, “Dosa apa yang kami dilakukan dengan engkau?” Subhanallah, sedangkan anak-anak itu adalah perhiasan yang membuatkan dunia ini jadi indah, tapi kau kuburkan dia hidup-hidup.

Kemudian Allah mengutus Rasulnya. Allah berfirman di dalam surah Al-Jum’ah ayat 2:

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Allah utus Nabi di tengah orang-orang Arab yang tidak tahu membaca dan menulis. Kalau dilihat hasil dakwah Nabi Muhammad S.A.W ini, antaranya: Nabi berdakwah kepada siapa? Kepada keluarganya, setelah itu berpindah kepada kerabatnya, kemudian kepada orang-orang Arab yang ada di Mekah lalu mulai dakwahnya berkembang kepada seluruh orang Arab, lalu kepada seluruh manusia.

Itu perjalanan dakwah Nabi S.A.W. Allah mengutus Nabi kepada umat manusia ini. Apa pekerjaan Nabi? Nabi itu membacakan kepada kaumnya, kepada umatnya ayat-ayat Allah, itu yang diajarkan oleh Nabi. Ada orang kafir datang untuk berdialog, Nabi bertanya kepada mereka setelah mereka bercerita panjang lebar: “Engkau mahu dengar dari aku?” Jawab mereka: “Ya”. Nabi membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka.

Dan tugas Nabi itu mensucikan mereka, mengajarkan kepada mereka al-Quran, mengajar mereka hikmah dan sunnah-sunnah Nabi S.A.W. Dulunya mereka sesat, bukan sesat biasa, tapi kesesatan yang nyata. Maka di utus Nabi S.A.W untuk mengeluarkan mereka dari kesesatan mereka. Allah menyebutkan sifat-sifat manusia:

(1) Manusia ini lemah

Dalam surah Nisa’ Ayat 28 Allah mengatakan:

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.”

(2)Manusia ini kufur terhadap nikmat dan suka berputus asa

Kalau diberi nikmat kepada manusia dan nikmat itu dicabut, apa yang terjadi? Orang itu benar-benar akan putus asa dan kufur terhadap nikmat Allah. Kadang-kala kalau kena penyakit, bangkrup, begini begitu, “Nampaknya ana mati!” Ya! datang perasaan itu pada orang yang sakit parah, timbul di fikirannya mahu mati. Orang bangkrup yang banyak hutang, timbul di fikiran mahu mati.

Dia berputus asa dari rahmat Allah, kufur dari rahmat Allah seakan-akan hidupnya susah terus. Pada hal baru setahun hidup susah, ada orang diuji dengan penyakit yang parah ketika umur 60, 61, 62 dan 63 tahun. Ketika itu mulai putus asa, mulai dia lupa dengan nikmat 60 tahun. Tetapi yang dia lihat hanya penyakit 3 tahun, itulah realiti manusia.

Tidak usah persoal orang lain, diri sendiri begitu. Namun Allah mengutusnya Nabi S.A.W mengajariku, agar aku tidak jadi seperti itu.

(3) Manusia ini suka berdebat, suka menyanggah, apa lagi dalam urusan agama

Firman Allah dalam surah an-Nahl ayat 4:

“Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.”

Kalau anda kerja di pejabat, anda pernah menyanggah peraturan pejabat? Anda mencari kerja di pejabat dan diterima dengan peraturan-peraturannya. Adakah anda berani membantah peraturan mereka? Tetapi kalau perintah-perintah Allah, manusia selalu mencari alasan agar tidak dilaksanakan.

Contohnya di dalam masyarakat, tidak pernah selesai masalah rokok. Kalau seorang isteri beritahu suami, “Sayang! Rokok itu bahaya”. Jawab suaminya, “Abang tengok doktor pun merokok, tak ada masalah pun,” dan kalau dikatakan rokok ini racun yang boleh membunoh, dijawabnya: “Ya Allah kau tahu! Pakcik tu merokok 70 tahun, tak ada apa-apa pun.”

Bagaimana untuk menghadapi mereka ini? Manusia suka berdebat, suka melawan, pada hal sudah jelas bahaya merokok itu. Jadi Nabi mengajarkan kepada kita, “Aku menjaminkan sebuah rumah di dataran syurga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia benar.”

Jadi sudahlah, kalau suami isteri bergaduh, siapa yang patut mengalah? Mesti ada yang kena mengalah. Tapi kalau isteri mengatakan bukan ana yang salah, dia yang salah, ooo… kalau gitu, teruskan!

Jadi dalam urusan rumah tangga bagi menghindarkan bermacam-macam masalah, mesti ada yang mengalah, masalah tidak akan pernah selesai kalau di hati masih saling menyalahkan dan tidak bertegur sapa. Kita bukan membicarakan siapa yang salah dan benar, tapi mengalah untuk untuk mencari jalan damai dan mengelak terus perbalahan, walau pun kita benar.

(4) Manusia itu orangnya terburu-buru

Allah mengatakan di surah Al Isra’ ayat 11:

“Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.”

Manusia itu makluk yang terburu-buru, sentiasa mengharapkan hasil itu cepat. Contohnya, terjadi di masa para Sahabat Nabi S.A.W ketika berada di Kota Makkah. Dalam keadaan yang sangat mencengkam, yang namanya siksaan, penindasan, pemulauan, bahkan pembunuhan terhadap para Sahabat, ini yang berlaku, bukan sesuatu yang aneh. Bahkan, wanita pertama yang mati syahid dalam Islam siapa? Sumayyah, siapa Sumayyah? Ibu Yassir.

Satu hari, para Sahabat datang menjumpai Nabi S.A.W, mereka datang, diwakili oleh Kaab, Suhaib ar-Rumi bagi Sahabat-sahabat yang tertindas. Mereka bertanya Rasulullah S.A.W: “Wahai Rasul S.A.W, apa belum tiba saatnya engkau berdoa mohon pertolongan  buat kita yang tertindas di sini?”  Nabi terus mengatakan pada mereka yang masa itu mereka berada di bawah naungan Kaabah.

“Kalian tahu, orang yang sebelum kalian itu, digali tanah ditanam dan kemudian kepalanya dibiarkan di luar tanah lalu digergaji kepalanya, sampai terbelah jadi dua. Itu tidak menjadikan mereka keluar dari agama Allah, dan sebahagian daripada mereka disisir dengan sisir dari besi sehingga terpisah daging dari tulangnya. Tapi itu tidak membuat mereka berpaling dari agama mereka. Agama ini akan Allah sempurnakan, urusan ini Allah akan selesaikan nanti sehingga ada nanti pengendara dari San’a ke Hadralmaut, mereka tidak takut kecuali pada Allah dan takut serigala kerana kambing-kambing gembalaannya, tapi kalian adalah kaum yang terburu-buru.”

Bani Israel, kenapa Allah berikan mereka kemenangan, adakah sebab mereka melawan Firaun? Berontak pada Firaun? Angkat senjata pada Firaun? Tidak! Allah berikan kemenangan kepada Bani Israel, Allah sempurnakan kemenangan kepada Bani Israel, Allah sempurnakan nikmat kepada Bani Israel. Kenapa? Kerana kesabaran mereka.

Kita kadang-kala tidak sabar sehingga akibat dari itu kita tergesa-gesa. Kita lihat, orang terburu-buru naik motor, naik kereta, akhir kemalangan. Dia ingin cepat sampai, ternyata dia tidak pernah sampai. Tidak pernah sampai. Itu sifat manusia dan Nabi S.A.W datang untuk mengajarkan bagaimana cara menghadapinya.

(5) Manusia ini sangat zalim dan sangat bodoh

Allah menyatakan dalam surah Al ahzab ayat 72:

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”

Maka betapa perlunya diutuskan Nabi untuk mengajarkan Islam dan membentuk manusia untuk kembali ke fitrahnya. Dengan kedatangan Islam, baru manusia jadi mulia.

(6) Manusia itu suka berkeluh kesah

Allah mengatakan dalam surah Al-Ma’arij ayat 19:

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.”

Contohnya, bila hujan, “Ya Allah kenapa hujan?” Kalau panas, “Ya Allah kenapa tidak hujan?” Masya-Allah! Manusia memang begitu. Kalau diberi ujian, kesempitan, atau sesuatu yang buruk, dia tidak bersabar. Sampai kadang-kala kalau ada orang yang kena masalah, seakan-akan dia menyalahkan Allah. Kalau dapat nikmat, disembunyikan, seolah-olah Allah tidak pernah berbuat baik kepadanya.

Allah mengatakan lagi dalam surah al Ma’arij ayat 20 dan 21.

“Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah”
“dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”

Maka diutuskan Rasulullah S.A.W untuk mengajarkan mereka, membacakan firman-firman Allah, menyucikan hati mereka dan mengajarkan al-Quran dan as-Sunnah.

Kesimpulannya, Alhamdulillah, beginilah Rasulullah mengajarku. Tugas aku untuk belajar, apakah aku mahu belajar atau tidak? Kalau bicara pasal ilmu, Masya-Allah. Di sekolah banyak yang telah diajar mengenai sejarah Nabi tapi berapa peratus yang dapat dihadami?

Aku mesti belajar kalau tidak aku akan hidup seperti jahiliyah. Nabi diutus membawa cahaya untuk menjadikan orang-orang bodoh ke dalam cahaya keilmuan dan kepandaian.

Kalau melihat Rasulullah S.A.W, beliau pernah mengatakan “Aku ini sesungguhnya diutus sebagai seorang guru, muallim, pengajar.”

Maka kita jangan menghina muallim, kadang-kala kita ini kalau melihat guru agama kita akan memandang dia sebelah mata, memperlekeh guru ngaji, padahal guru agamalah memperkenalkan anak-anak kita kepada Allah. Memberitahu jalan-jalan kejayaan untuk ke syurga. Tapi kekadang tidak pernah menghargai mereka. Kita mudah lupa. Nabi SAW  diutus untuk mengajar kita erti sebuah kebijaksaan dan kejayaan di dunia dan akhirat.

Wallahu‘aklam

FARIDAH KAMARUDDIN
Kuantan – HARAKAHDAILY 16/11/2020